Pelemahan Rupiah Didorong Ketatnya Likuiditas Ekonomi Domestik, Menurut Analis Bank Woori Saudara
2 min read
Sumber: antaranews.com
Aktual Tekno – Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada hari Rabu ini disebabkan oleh kondisi likuiditas perekonomian domestik yang sangat terbatas. Menurut Rully, ketatnya likuiditas ini membuat perekonomian Indonesia terasa seperti “kurang darah,” yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi domestik. Rully menyebutkan bahwa hal ini bisa menyebabkan stagnasi, karena jika likuiditas sangat terbatas, pergerakan uang dalam perekonomian akan terhambat.
Rully menambahkan bahwa untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan kebijakan yang dapat meningkatkan likuiditas dan mendorong perekonomian untuk bergerak lebih cepat. Ia menggambarkan kredit bank sebagai “darah” yang mengalir dalam perekonomian, sementara bank itu sendiri diibaratkan sebagai “jantung.” Namun, saat ini, kondisi jantung perekonomian Indonesia dianggap sedang lemah, yang menandakan bahwa peredaran uang dalam sistem ekonomi tidak berjalan optimal.
Pelemahan rupiah ini berlangsung meskipun Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada angka 5,75 persen, sebagaimana diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22 dan 23 April 2025. Meskipun kebijakan ini dinilai tepat, Rully berpendapat bahwa keputusan tersebut tidak memberikan dampak positif yang signifikan terhadap penguatan rupiah. Menurutnya, meskipun kebijakan BI tetap mempertahankan suku bunga acuan, hal itu tidak cukup untuk menanggulangi tekanan yang dihadapi oleh nilai tukar rupiah.
Selain itu, di pasar saham domestik, Rully mencatat adanya perbaikan yang mulai terlihat. Bursa saham Indonesia mengalami kenaikan sebesar 1,2 persen pada sesi pertama perdagangan hari ini. Hal ini menunjukkan adanya pemulihan pasca tren jual bersih (net sell) yang dilakukan oleh investor asing, yang sebelumnya sempat terjadi. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun juga menurun menjadi 6,951 persen, mencerminkan sentimen yang lebih positif di pasar obligasi.
Namun, meskipun ada tanda-tanda perbaikan di pasar saham, faktor eksternal, seperti peningkatan indeks dolar AS, masih memberikan tekanan terhadap rupiah. Dolar AS tercatat menguat sebesar 1 persen, mencapai angka 100 pada hari Rabu, 23 April 2025. Hal ini memberikan dampak negatif terhadap kurs rupiah, yang pada penutupan perdagangan hari ini melemah sebesar 12 poin atau 0,07 persen, menjadi Rp16.872 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah tercatat berada pada level Rp16.860 per dolar AS.
Selanjutnya, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga mencatatkan penurunan pada level Rp16.880 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di angka Rp16.862 per dolar AS. Dengan kondisi ini, Rully mengingatkan bahwa faktor likuiditas domestik yang ketat dan penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan dalam proyeksi nilai tukar rupiah ke depannya.
Secara keseluruhan, meskipun ada perbaikan di pasar saham domestik, ketatnya likuiditas perekonomian domestik dan faktor eksternal yang mempengaruhi kurs rupiah masih menjadi tantangan besar bagi perekonomian Indonesia. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan untuk dapat mengambil langkah-langkah kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah ini dan memastikan stabilitas ekonomi yang lebih baik ke depannya.
